• Jelajahi

    Copyright © Postnewstv.co.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Pemred

    Pemred

    Kasalpol Nisel

    Tiga Rakit Dibakar Saat Razia PETI di Kuantan Hilir, Pelaku Telah Melarikan Diri

    Postnewstv.co.id
    Friday, February 14, 2025, 15:17 WIB Last Updated 2025-02-14T08:17:50Z

    PEKANBARU - Upaya pemberantasan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) kembali dilancarkan oleh Polsek Kuantan Hilir, seperti halnya yang dilakukan pada Rabu (12/2/2025).


    Aparat kepolisian melakukan razia di dua lokasi berbeda, yakni desa Kasang Limau Sundai dan desa Koto Rajo, Kecamatan Kuantan Hilir Seberang, provinsi Riau.


    Dari razia tersebut aparat menemukan tiga rakit PETI yang telah ditinggalkan pelaku kemudian langsung dimusnahkan dengan dibakar. Tidak satu pun pelaku yang berhasil diamankan. 


    Razia ini dipimpin oleh PS Kanit Reskrim Aipda Ronaldi Alfren, SE, bersama tim yang terdiri dari Banit Reskrim Aipda Rieki, SH, Banit Reskrim Aipda Adi Sutisna, dan Banit Reskrim Brigadir Ridwan Sinurat.


    " Saat tim tiba di lokasi, aktivitas tambang sudah tidak terlihat dan rakit-rakit PETI yang digunakan para penambang tampak kosong," jelas Kapolsek Kuantan Hilir IPTU Riduan Butar-butar, SH, MH melalui PS Kanit Reskrim.  


    Kapolsek Kuantan Hilir IPTU Riduan Butar-butar, SH,MH, melalui PS Kanit Reskrim mengungkapkan, bahwa pada pukul 13.30 WIB, pihaknya melakukan patroli dan pengecekan di lokasi yang diduga menjadi titik aktivitas PETI, namun tak menemukan pelaku, karena para penambang sudah terlebih dulu meninggalkan tempat.


    "Kami menemukan tiga rakit PETI yang sudah ditinggalkan pelaku dan selanjutnya, tim melakukan penindakan dengan cara merusak dan membakar rakit tersebut," ujarnya dikutip Jumat (14/2/2025).


    Keberadaan PETI di wilayah Kuantan Hilir telah menjadi permasalahan serius yang sulit diberantas. Meski razia rutin dilakukan, para pelaku selalu lebih cepat menghilang sebelum polisi tiba. 


    Tidak jelas apakah informasi razia bocor atau mereka memiliki sistem pengawasan sendiri yang memungkinkan mereka kabur sebelum ditindak. 


    Selain merusak lingkungan, aktivitas PETI juga berpotensi memicu konflik sosial di tengah masyarakat, sebab banyak dari warga yang bergantung pada tambang ilegal ini sebagai mata pencaharian, meski mereka menyadari risiko hukum yang mengintai. 


    Larangan dan razia yang dilakukan aparat terkadang tidak cukup untuk menghentikan praktik tersebut, terutama jika tidak ada langkah hukum yang tegas terhadap pelaku.  


    Dalam operasi kali ini, polisi hanya bisa menghancurkan fasilitas PETI tanpa menangkap orang-orang yang terlibat. 


    Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas razia dalam menekan aktivitas tambang ilegal. Tanpa ada sanksi langsung kepada pelaku, besar kemungkinan mereka akan kembali beroperasi dengan rakit baru setelah situasi dianggap aman.  


    Ke depan, diperlukan strategi yang lebih komprehensif untuk mengatasi PETI. Selain razia dan penindakan, pemerintah juga harus mempertimbangkan upaya pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat agar mereka tidak lagi bergantung pada tambang ilegal yang merusak lingkungan dan bertentangan dengan hukum.


    (Mc Riau/Jekson, SH)

    Komentar

    Tampilkan